Daerah Istimewa
Yogyakarta termasuk salah satu provinsi di Jawa Tengah. Daerah yang memiliki
berbagai keindahan yang ada di Indonesia. Memiliki sejumlah SDM (Sumber Daya
Manusia) yang sangat kreatif, dan kekayaan alam yang melimpah. Wilayah yang
dikelilingi gunung dan sejumlah pantai yang indah. Kota yang terdapat di bawah
lereng Gunung Merapi yang masih aktif, yang dengan angkuhnya mampu menandingi
ibukota Indonesia. Tanah yang cukup asri untuk ditinggali manusia, menjadi
tempat favorit berpariwisata. Provinsi yang cukup megah dengan gedung-gedung
yang menjulang tinggi, tetapi masih menyimpan sejumlah lahan hijau yang indah.
Kenyamanan yang
tercipta dapat dirasakan dan dimanfaatkan dengan maksimal oleh penduduk DIY.
Telah banyak yang membuktikan bahwa DIY tidak hanya sekedar daerah yang lemah,
DIY memiliki banyak potensi pariwisata, SDM, dan ikon-ikon khas Yogyakarta.
Salah satu ciri khas DIY adalah batik. Produksi batik asli DIY sangat diminati
diberbagai kalangan, bahkan sampai ke mancanegara. Ketelatenan warga DIY
membuat kain batik yang cukup memerlukan waktu, kini telah
terbukti menjadi salah satu prestasi dari Yogyakarta. Dari modal kecil dan ketelatenan para pengrajin, semua akan membuahkan hasil yang menakjubkan.
terbukti menjadi salah satu prestasi dari Yogyakarta. Dari modal kecil dan ketelatenan para pengrajin, semua akan membuahkan hasil yang menakjubkan.
Tidak hanya kain
batik yang menjadi ikon DIY, akan tetapi masih banyak kerajinan hasil karya
warga Yogyakarta yang tidak kalah menarik dan terkenal. DIY memiliki banyak
pengrajin yang profesional. Para pengrajin yang mampu memanfaatkan hama bahkan
limbah-limbah masyarakat dan mengubahnya menjadi produk yang layak pakai dan
dijamin awet. Pemanfaatan yang ramah lingkungan dan mencegah pemanasan global
di zaman yang mengalami globalisasi ini. Limbah-limbah sampah, dan hama tanaman
seperti enceng gondok, agel, bambu dan masih banyak lagi, disulap menjadi
barang-barang yang cantik. Di tangan-tangan kreatif para pengrajin tercipta
sejumlah karya serta kerajinan yang menarik.
Banyak yang
telah mendirikan kerajianan dari usaha rumahan atau handmade. Usaha micro ini
lumayan menarik dijalani, karena bisa meraih untung yang lumayan besar jika
telaten menggeluti. Diberbagai penjuru di DIY telah banyak pengrajin yang
membuat produk-produk yang berasal dari bahan-bahan yang menjadi hama maupun
limbah dan juga rajutan. Produk tersebut dipasarkan di sekitar daerah DIY dan
Jawa Tengah. Tidak sedikit pengrajin yang memasarkannya melalui sosial media
dan website. Pemanfaatan teknologi yang semakin canggih untuk memasarkan produk
adalah hal yang sangat menguntungkan bagi penjual dan pembeli. Pada zaman
globalisasi ini, harus pandai mencari peluang dan kesempatan agar tidak
tertinggal dengan yang lainnya. Sama halnya dengan usaha, sebagai pengusaha
harusnya pandai memasarkan produk-produk sampai kepenjuru dunia.
Enceng gondok,
agel, bambu, dan mendong merupakan tamanan yang tumbuh melimpah di DIY. Tanaman
yang menjadi hama bagi tanaman lain maupun manusia. Mulai dari sinilah
pengrajin berusaha memanfaatkan hama ini menjadi kerajinan khas DIY, dengan
membuat berbagai produk seperti, tas, dompet, hiasan dinding, dan masih banyak
lagi. Tidak hanya itu saja, masih ada limbah plastik, lidi, dan karung goni
yang disulap menjadi tas, sepatu, dompet, asesories, dan lain-lain. Adapula yang
membuat dari bahan benang rajut yang telah banyak digeluti para pengrajin
diberbagai daerah, yang membuat persaingan lebih tinggi untuk hal pemasaran.
Hama atau gulma
yang merusak ekosistem lain, bisa dikreasikan menjadi produk yang tidak kalah
cantik dengan produk lainnya. Merombak bahan-bahan yang tidak biasa menjadi
barang-barang yang laku jual. Enceng gondok, agel, mendong dan bambu, merupakan
bahan yang mudah didapatkan. Cara pengolahan yang cukup simpel, dan tidak
terlalu memakan banyak biaya. Dapat diproduksi dengan skala besar, karena
jumlah bahan yang melimpah dan murah.
Limbah sampah
yang melimpah menjadi salah satu permasalahan publik yang cukup mengkhawatirkan.
Dari berbagai daerah masalah sampah sangatlah mencemaskan, bahkan banjir
bandang di sejumlah daerah disebabkan karena adanya tumpukan sampah yang
menggunung. Kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya masih sangat kecil.
Apalagi pengetahuan dalam memanfaatkan limbah sampah, masih sangat kurang. Maka
diperlukan kreativitas, dalam mengolah limbah sampah plastik dan lidi. Menadah
dari para pengepul sampah-sampah dan membuat kerajinan tangan yang menarik. Selain
ramah lingkungan, pembuatan produk ini juga ekonomis.
Kerajinan rajut
dan karung goni, memiliki beberapa kesamaan dan perbedaan. Kesamaanannya adalah
banyak jenis barang yang bisa diproduksi dari bahan ini karena teksturenya mirip
dengan kain. Sedangkan perbedaannya adalah dari sisi mendapatkan bahannya,
benang rajut merupakan bahan baru yang bisa didapatkan dengan harga yang
lumayan murah, sedangkan karung goni, didapatkan dari pengepul barang bekas
dengan harga yang ekonomis. Teksture yang sedikit kasar dari bahan tersebut
tidak menjadi kendala untuk penjualan produk. Pembuatan dengan cara
dikombinasikan dengan bahan tambahan akan membuat daya tarik tersendiri dari
produk kerajinan rajut dan karung goni.
Pusat pemasaran
kerajinan para pengrajin salah satunya ada di malioboro. Tempat yang digunakan
warga DIY untuk menjual berbagai macam barang, mulai dari batik, gudeg,
kerajinan, dan masih banyak lagi. Malioboro terkenal dengan pasar Bringharjo
yang buka mulai pagi sampai sore, dan Benteng Vredeburg. Di area Malioboro,
banyak pengrajin yang menjajakan produknya secara langsung. Menjual produk
dengan harga yang terjangkau dan berbagai jenis. Meskipun persaingan sangat
ketat, tetapi para pengrajin tidak menyerah dengan tetap memproduksi berbagai
jenis model barang dan memasarkannya tidak hanya di satu tempat saja.
Kerajinan yang
diciptakan para pengrajin DIY tidak hanya itu, karena DIY mempunyai berbagai
produk yang sangat banyak. Ada pahatan, tanah liat, batu, seni lukis dan masih banyak
lagi. Karya dari berbagai seni ada di DIY. Yogyakarta juga masih kental dengan
sebutan daerah keraton, karena memang DIY dipimpin oleh seorang sultan
keturunan Hamengkubouno. Daerah yang dipimpin oleh seorang sultan bukan berati
daerah yang kuno melainkan daerah yang modern layaknya dipimpin oleh seorang
bupati pada umumnya. Kepemimpinan dengan kultur budaya yang kental, tidak
membatasi setiap warganya untuk berkreasi dan berkembang. Pikiran yang terbuka,
membebaskan kreativitas tanpa menghalangi jalur untuk mencari sesuap nasi.
Menekuni suatu pekerjaan yang terbilang dengan pendapatan tidak stabil tetapi percaya akan rejeki yang telah dituliskan tidak menjadi batasan untuk berkarya. Berkarya tidak hanya sebatas untuk mendapatkan penghasilan melainkan untuk mengekspresikan diri. Menghargai karya-karya anak bangsa juga harus diterapkan agar tidak semena-mena meremehkan suatu karya yang dibuat dengan bermandikan keringat. Setiap karya memiliki sebuah arti yang tersembunyi, terkadang hanya pencipta karya tersebutlah yang mengerti arti dari karya yang dibuatnya. Suatu karya umumnya mencerminkan karakter dari pencipta karya tersebut. Hasil karya yang tercipta tidak hanya untuk dirinya sendiri melainkan juga untuk kepentingan orang banyak seperti pengrajin barang-barang di DIY. Kebutuhan konsumen yang meningkat dan harga bahan yang melonjak, membuat para pengrajin memutar otak untuk membuat produk yang bisa dijual dengan kualitas yang sama namun harga terjangkau. Maka dari itulah solusinya dengan memanfaatkan bahan-bahan dari limbah dan hama.


0 komentar:
Post a Comment