Tuesday, October 27, 2015

POTENSI MEMBAWA REZEKI YOGYAKARTA

Daerah Istimewa Yogyakarta termasuk salah satu provinsi di Jawa Tengah. Daerah yang memiliki berbagai keindahan yang ada di Indonesia. Memiliki sejumlah SDM (Sumber Daya Manusia) yang sangat kreatif, dan kekayaan alam yang melimpah. Wilayah yang dikelilingi gunung dan sejumlah pantai yang indah. Kota yang terdapat di bawah lereng Gunung Merapi yang masih aktif, yang dengan angkuhnya mampu menandingi ibukota Indonesia. Tanah yang cukup asri untuk ditinggali manusia, menjadi tempat favorit berpariwisata. Provinsi yang cukup megah dengan gedung-gedung yang menjulang tinggi, tetapi masih menyimpan sejumlah lahan hijau yang indah.

Kenyamanan yang tercipta dapat dirasakan dan dimanfaatkan dengan maksimal oleh penduduk DIY. Telah banyak yang membuktikan bahwa DIY tidak hanya sekedar daerah yang lemah, DIY memiliki banyak potensi pariwisata, SDM, dan ikon-ikon khas Yogyakarta. Salah satu ciri khas DIY adalah batik. Produksi batik asli DIY sangat diminati diberbagai kalangan, bahkan sampai ke mancanegara. Ketelatenan warga DIY membuat kain batik yang cukup memerlukan waktu, kini telah
terbukti menjadi salah satu prestasi dari Yogyakarta. Dari modal kecil dan ketelatenan para pengrajin, semua akan membuahkan hasil yang menakjubkan.

Tidak hanya kain batik yang menjadi ikon DIY, akan tetapi masih banyak kerajinan hasil karya warga Yogyakarta yang tidak kalah menarik dan terkenal. DIY memiliki banyak pengrajin yang profesional. Para pengrajin yang mampu memanfaatkan hama bahkan limbah-limbah masyarakat dan mengubahnya menjadi produk yang layak pakai dan dijamin awet. Pemanfaatan yang ramah lingkungan dan mencegah pemanasan global di zaman yang mengalami globalisasi ini. Limbah-limbah sampah, dan hama tanaman seperti enceng gondok, agel, bambu dan masih banyak lagi, disulap menjadi barang-barang yang cantik. Di tangan-tangan kreatif para pengrajin tercipta sejumlah karya serta kerajinan yang menarik.

Banyak yang telah mendirikan kerajianan dari usaha rumahan atau handmade. Usaha micro ini lumayan menarik dijalani, karena bisa meraih untung yang lumayan besar jika telaten menggeluti. Diberbagai penjuru di DIY telah banyak pengrajin yang membuat produk-produk yang berasal dari bahan-bahan yang menjadi hama maupun limbah dan juga rajutan. Produk tersebut dipasarkan di sekitar daerah DIY dan Jawa Tengah. Tidak sedikit pengrajin yang memasarkannya melalui sosial media dan website. Pemanfaatan teknologi yang semakin canggih untuk memasarkan produk adalah hal yang sangat menguntungkan bagi penjual dan pembeli. Pada zaman globalisasi ini, harus pandai mencari peluang dan kesempatan agar tidak tertinggal dengan yang lainnya. Sama halnya dengan usaha, sebagai pengusaha harusnya pandai memasarkan produk-produk sampai kepenjuru dunia.

Enceng gondok, agel, bambu, dan mendong merupakan tamanan yang tumbuh melimpah di DIY. Tanaman yang menjadi hama bagi tanaman lain maupun manusia. Mulai dari sinilah pengrajin berusaha memanfaatkan hama ini menjadi kerajinan khas DIY, dengan membuat berbagai produk seperti, tas, dompet, hiasan dinding, dan masih banyak lagi. Tidak hanya itu saja, masih ada limbah plastik, lidi, dan karung goni yang disulap menjadi tas, sepatu, dompet, asesories, dan lain-lain. Adapula yang membuat dari bahan benang rajut yang telah banyak digeluti para pengrajin diberbagai daerah, yang membuat persaingan lebih tinggi untuk hal pemasaran.

Hama atau gulma yang merusak ekosistem lain, bisa dikreasikan menjadi produk yang tidak kalah cantik dengan produk lainnya. Merombak bahan-bahan yang tidak biasa menjadi barang-barang yang laku jual. Enceng gondok, agel, mendong dan bambu, merupakan bahan yang mudah didapatkan. Cara pengolahan yang cukup simpel, dan tidak terlalu memakan banyak biaya. Dapat diproduksi dengan skala besar, karena jumlah bahan yang melimpah dan murah.

Limbah sampah yang melimpah menjadi salah satu permasalahan publik yang cukup mengkhawatirkan. Dari berbagai daerah masalah sampah sangatlah mencemaskan, bahkan banjir bandang di sejumlah daerah disebabkan karena adanya tumpukan sampah yang menggunung. Kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya masih sangat kecil. Apalagi pengetahuan dalam memanfaatkan limbah sampah, masih sangat kurang. Maka diperlukan kreativitas, dalam mengolah limbah sampah plastik dan lidi. Menadah dari para pengepul sampah-sampah dan membuat kerajinan tangan yang menarik. Selain ramah lingkungan, pembuatan produk ini juga ekonomis.

Kerajinan rajut dan karung goni, memiliki beberapa kesamaan dan perbedaan. Kesamaanannya adalah banyak jenis barang yang bisa diproduksi dari bahan ini karena teksturenya mirip dengan kain. Sedangkan perbedaannya adalah dari sisi mendapatkan bahannya, benang rajut merupakan bahan baru yang bisa didapatkan dengan harga yang lumayan murah, sedangkan karung goni, didapatkan dari pengepul barang bekas dengan harga yang ekonomis. Teksture yang sedikit kasar dari bahan tersebut tidak menjadi kendala untuk penjualan produk. Pembuatan dengan cara dikombinasikan dengan bahan tambahan akan membuat daya tarik tersendiri dari produk kerajinan rajut dan karung goni.

Pusat pemasaran kerajinan para pengrajin salah satunya ada di malioboro. Tempat yang digunakan warga DIY untuk menjual berbagai macam barang, mulai dari batik, gudeg, kerajinan, dan masih banyak lagi. Malioboro terkenal dengan pasar Bringharjo yang buka mulai pagi sampai sore, dan Benteng Vredeburg. Di area Malioboro, banyak pengrajin yang menjajakan produknya secara langsung. Menjual produk dengan harga yang terjangkau dan berbagai jenis. Meskipun persaingan sangat ketat, tetapi para pengrajin tidak menyerah dengan tetap memproduksi berbagai jenis model barang dan memasarkannya tidak hanya di satu tempat saja.

Kerajinan yang diciptakan para pengrajin DIY tidak hanya itu, karena DIY mempunyai berbagai produk yang sangat banyak. Ada pahatan, tanah liat, batu, seni lukis dan masih banyak lagi. Karya dari berbagai seni ada di DIY. Yogyakarta juga masih kental dengan sebutan daerah keraton, karena memang DIY dipimpin oleh seorang sultan keturunan Hamengkubouno. Daerah yang dipimpin oleh seorang sultan bukan berati daerah yang kuno melainkan daerah yang modern layaknya dipimpin oleh seorang bupati pada umumnya. Kepemimpinan dengan kultur budaya yang kental, tidak membatasi setiap warganya untuk berkreasi dan berkembang. Pikiran yang terbuka, membebaskan kreativitas tanpa menghalangi jalur untuk mencari sesuap nasi.

         Menekuni suatu pekerjaan yang terbilang dengan pendapatan tidak stabil tetapi percaya akan rejeki yang telah dituliskan tidak menjadi batasan untuk berkarya. Berkarya tidak hanya sebatas untuk mendapatkan penghasilan melainkan untuk mengekspresikan diri. Menghargai karya-karya anak bangsa juga harus diterapkan agar tidak semena-mena meremehkan suatu karya yang dibuat dengan bermandikan keringat. Setiap karya memiliki sebuah arti yang tersembunyi, terkadang hanya pencipta karya tersebutlah yang mengerti arti dari karya yang dibuatnya. Suatu karya umumnya mencerminkan karakter dari pencipta karya tersebut. Hasil karya yang tercipta tidak hanya untuk dirinya sendiri melainkan juga untuk kepentingan orang banyak seperti pengrajin barang-barang di DIY. Kebutuhan konsumen yang meningkat dan harga bahan yang melonjak, membuat para pengrajin memutar otak untuk membuat produk yang bisa dijual dengan kualitas yang sama namun harga terjangkau. Maka dari itulah solusinya dengan memanfaatkan bahan-bahan dari limbah dan hama.
Posted on by Rajutan Kerajinan Tangan | No comments

0 komentar:

Post a Comment